Memberi pendidikan agama berarti menanamkan wawasan, keilmuan, keahlian, dan akhlaq terhadap peserta didik. Sebab agama bukan hanya untuk diketahui atau dimengerti, melainkan juga untuk dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagian orang mungkin saja menganggap aktifitas mengajar di tingkat diniyyah awwal itu enteng dan mudah, namun bila ditinjau dari persoalan di atas akan nampak bagaimana sulitnya menjadi seorang pendidik di sekolah tingkat ini, melebihi kesulitan seorang guru sekolah umum lainnya. Aktifitas menyampaikan materi pelajaran hingga poin-poin materinya bisa tertanam dalam kehidupan peserta didik menjadi sebuah akhlaq (perilaku yang menjadi karakter) sehari-harinya bukanlah persoalan mudah. Untuk mencapai tingkat itu seorang guru mesti mempergunakan beragam cara, alat dan kemampuan yang memungkinkan semuanya dapat terwujud.
![]() |
| [Suasana proses belajar-mengajar] |
Seorang guru Madrasah Diniyyah Awwaliyah (MDA) dituntut untuk tekun menyelami karakter anak, situasi keluarga dan lingkungan mereka, hingga pendekatan yang digunakan saat mendidik mereka bisa lebih efektif dan efisien.
Dalam rangka berusaha mewujudkan poin utama pendidikan agama tersebut, setiap semester kami melakukan muhasabah terhadap kebijakan yang telah diterapkan sebelumnya. Selain itu, kami juga berusaha pekak melihat persoalan-persoalan penting apa saja yang masih belum ada pada para peserta didik.
Untuk itu, inofasi pendekatan, juga agenda harian yang rutin dilakukan setiap harinya, tidak menutup kemungkinan akan terus berganti.
Tahun 2011 lalu, dengan melihat kultur lingkungan para peserta didik (baik tempat bermain maupun keluarganya sendiri) yang sudah kurang memperhatikan persoalan aktifitas ibadah shalat yang lima waktu, pada akhirnya kami mengagendakan pengabsenan dan penekanan pada semua peserta didik dalam persoalan itu. Meski belum sepenuhnya mereka bisa melakukan secara full, setidaknya metode ini bisa kami jadikan sebagai wahana pemdidikan ibadah yang mengkristal menjadi akhlaq.
Di tahun itu pula kami terus melakukan pembiasaan pada anak laki-laki untuk bisa melakukan adzan dan iqamah, dan alhamdulillah kini hampir semua peserta didik laki-laki sudah bisa melakukannya. itu semua kami lakukan dengan methode pembiasaan setiap hari.
Diluar agenda-agenda itu semua, masih banyak agenda lain tengah dan akan berjalan. Namun sering kali kami mendapat kendala dalam mewujudkan agenda-agenda yang direncanakan tersebut dari beragam stakeholder yang terkait, baik dari para orang tua murid, lingkungan sekitar, maupun dari para pengurus yayasan itu sendiri. Mudah-mudahan ke depan semua elemen stakeholder yang terkait dengan MDA kami bisa sepenuhnya seiya dan setujuan secara harmonis lagi. Ini menjadi harapan terbesar kami di tengah-tengah usaha yang terlihat tidak begitu penting lagi eksistensinya namun sangat besar dampaknya bagi masa depan kita semua.
